Data
Catat! Presiden Pun Akui Tak Tersedia Progres Penanggulangan Pandemi Corona Dengan Signifikan

Catat! Presiden Pun Akui Tak Tersedia Progres Penanggulangan Pandemi Corona Dengan Signifikan

Jakarta, Akuratnews. com –  Apa yang dirasakan dan dikeluhkan masyarakat terkait ketidakcakapan pemerintah dalam menangangani pandemi Corona (Covid-19) itu perlahan terjawab.

Setidaknya hal di atas tergambarkan pada pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat membuka Sidang Kabinet pada 18 Juni lalu yang dihadiri seluruh menteri di Istana Kepresidenan.

Bahkan dengan langsung, Presiden Jokowi menyebut tidak tersedia progres yang signifikan dari penanggulangan pandemi Corona di negeri itu.

“Saya harus ngomong apa adanya, nggak ada kemajuan yang signifikan, nggak ada! ” tegas Presiden Jokowi dalam video Rapat Kabinet yang baru diupload, Minggu (28/6).

Nada bicara Presiden Jokowi memang sering meninggi saat membuka Sidang Kabinet ini. Dia mengatakan bahwa di tiga bulan ke belakang hingga saat ini di masa krisis akibat pandemi Corona, masih ada anggota kabinet bekerja biasa-biasa sekadar.

“Saya melihat masih banyak kita dengan menganggap ini normal. Saya lihat masih banyak kita ini dengan seperti biasa-biasa saja. Saya jengkelnya di situ. Ini apa nggak punya perasaan, ” tandasnya.

Jokowi menguatkan, bahwa kondisi saat ini diperlukan tindakan luar biasa atau extraordinary. Jangan sampai terhambat hanya sebab peraturan.

Ia mempertontonkan, Kementerian Kesehatan yang baru melelehkan 1, 53 persen anggaran. Padahal, anggaran yang diberikan sebesar Rp70-an triliun.

“Pembayaran tunjangan untuk dokter, dokter spesialis, gaya medis segera keluarkan. Belanja-belanja untuk peralatan segera keluarkan, ” tandas Presiden.

Soal tumpuan sosial yang ditunggu masyarakat, Jokowi juga meminta untuk segera dikeluarkan. Jika ada masalah segera kerjakan tindakan lapangan.

“Meskipun sudah lumayan, tapi baru agak. Ini extraordinary, harusnya 100 komisi, ” tandas Kepala Negara.

Juga terpaut stimulus ekonomi. Dia meminta biar bantuan-bantuan segera diberikan kepada sektor mikro, kecil, menengah hingga industri padat karya agar tidak terjadi krisis yang lebih besar.

“Mereka menunggu semua. Jangan biarkan mereka mati dulu baru kita bantu. Nggak ada artinya. Usaha mikro, kecil, menengah, perbankan, semuanya. Terutama yang padat karya. Beri prioritas di mereka supaya tidak ada PHK. Jangan udah ada PHK gede-gedean, duit serupiah pun belum menyelap ke stimulus ekonomi kita hanya gara-gara peraturan, ” tegas Jokowi.

Mantan gubernur DKI itu bahkan menawarkan jika ada masalah dalam sistem dan kebijakan, dirinya bisa membuat Perppu seperti Perppu Nomor 1 yang memberi keleluasaan menteri mencairkan anggaran untuk penanganan Corona.

“Kalau bersetuju minta keluarkan Perppu lagi saya buatkan lagi Perppu kalau dengan ada belum cukup. Asal untuk rakyat, asal untuk negara, aku pertaruhkan reputasi politik saya, ” tegas Jokowi.

Jokowi bahkan terpikir akan membubarkan lembaga atau mencopot gajah.

“Bisa saja membubarkan lembaga, bisa selalu reshuffle. Sudah kepikiran ke mana-mana saya, ” ucap Jokowi secara nada tinggi.

“Kalau Bapak Ibu tak merasakan itu, sudah. Artinya tindakan-tindakan yang extraordinary keras akan aku lakukan, ” tegasnya.