Cetuskan Kurikulum Antiradikalisme, Ganjar Apresiasi UIN Walisongo

Semarang, Akuratnews. com – Semarakkan rangkaian Dies Natalis ke-51 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang adakan Lembaga Cinta Tanah Air.

Diikuti sejumlah ulama dan cendekiawan di Daerah Jawa Tengah berkumpul dalam forum tersebut yang bertempat di UIN Walisongo Semarang pada Minggu 4 April.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk merumuskan kurikulum antiradikalisme serta intoleransi pada berbagai jenjang pendidikan.

Forum yang dipelopori oleh Mbah Munif pengasuh Pondok Pesantren Giri Kusumo Mranggen mendapat apresiasi oleh Gubernur Ganjar Pranowo dengan hadir pada kegiatan tersebut.

“Ini benar brilian dan sebagai terobosan, menggabungkan kampus dan pondok pesantren, mereka berkolaborasi untuk membuat kurikulum pendidikan, ” ucap Ganjar.

Orang nomor satu di Jateng itu mendukung sempurna forum ulama dan sarjana tersebut, apalagi kegiatannya buat membuat pedoman pengajaran di sekolah sebagai upaya menangani generasi muda dari bala paham-paham radikal dan intoleran itu.

Patuh dia, forum tersebut pas sebagai jawaban kondisi kelompok saat ini menyusul adanya aksi terorisme di Makassar dan Jakarta yang dikerjakan anak muda.

“Saya resah melihat suasana ini, maka saya menunjang forum ini sebagai upaya melindungi generasi muda daripada paham radikal dan intoleransi. Dengan membentuk karakter dan membuat metode dan metodologi pembelajaran yang baik, forum ini diharapkan membuat anak-anak tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga emosional. Jadi, tidak gampang ‘ngamukan’, tidak ‘baperan’, ” jelasnya.

Setelah kurikulum antiradikalisme itu selesai ditata dari forum tersebut akan diterapkan oleh Gubernur Membalas di seluruh sekolah pada Jawa Tengah dengan jalan dapat dimasukkan dalam setiap pembelajaran yang ada di jenjang pendidikan itu.

“Semua tingkat serta semua level, hasil lembaga ini tentu akan menjadi bagian penting dalam pendidikan di Jawa Tengah. Jadi kalau siswa belajar tersebut ada gurunya dan isinya benar, kalau tidak tersedia gurunya, mereka akan melancarkan di internet dan itu bahaya. Nanti merasa betul, muncul ujaran kebencian, gampang ‘ngamuk’ dan sampai dalam tindakan yang tidak diinginkan, ” tandas Ganjar. ***