Data
Diam-diam, Pihak Hengjaya Mineralindo Buka Sengkang Warga Bete-Bete

Diam-diam, Pihak Hengjaya Mineralindo Buka Sengkang Warga Bete-Bete

Morowali, Akuratnews. com awut-awutan Aksi pemalangan Jalan Houling PT Hengjaya Mineralindo oleh warga Tempat Bete-Bete, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Propinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) di 3 Juli 2020 lalu, telah dibuka secara diam-diam atau minus pemberitahuan kepada warga yang mengabulkan pemalangan.

Hal tersebut diungkapkan langsung oleh para petani di desa Bete-Bete, yang era itu melakukan aksi pemalangan. Diketahui, aksi pemalangan Jalan Houling itu mereka lakukan sebagai bentuk pressure dan protes ke pihak PT Hengjaya Mineralindo, agar segera mengganti rugi tanaman mereka yang telah di rusak akibat aktivitas introduksi Jalan Houling.

Satu diantara pemilik tanaman yang dirusak pihak perusahaan bernama Sofyan menyatakan kalau, dirinya sangat kecewa dan mengkal atas pembukaan palang yang dipasang oleh warga desa Bete-Bete sebagai pemilik kebun dan tanam lahir dilokasi pembangunan jalan houling PT. Hengjaya Mineralindo.

“Seharusnya permasalahan diselesaikan secara baik-baik, tidak malah melakukan cara-cara seperti itu. Baru aksi pemalangan dibuka, minus sepengetahuan kami selaku pemilik flora yang dirusak pihak perusahaan (PT Hengjaya Mineralindo, red), ” tegasnya.

Saat dikonfirmasi Kamis malam kemarin (24/9), mewakili awak lainnya yang juga tanamannya dirusak akibat aktivitas pembukaan Jalan Houling PT Hengjaya Mineralindo Sofyan menegaskan bahwa mereka akan kembali memasang palang di seputaran lokasi flora mereka yang di rusak.

“Kami ini hanya suka bertani, kami hanya hidup dari hasil tani. Tidak ada yang melarang perusahaan beraktivitas, tapi setidaknya harus bertanggungjawab atas apa yang telah mereka lakukan yang merugikan petani sekitar. Besok hari Jumat (hari ini, red), kami kaum petani akan kembali turun menyelenggarakan aksi pemalangan Jalan Houling, ” ungkapnya.

Usai melakukan aksi pemalangan Jalan Houling patuh Sofyan, mereka akan melanjutkan aksinya ke Palu. Tujuannya, untuk mengadukan kejadian ini agar para petani yang dirugikan bisa segera memperoleh apa yang menjadi haknya.

“Semoga pintu hati pihak perusahaan secepatnya terbuka. Kasihan awak ini yang hanya mengharap buatan tani untuk bisa bertahan hidup. Pokoknya, apapun yang terjadi saya tetap akan bertani di tempat yang sudah lama kami tempati untuk mencari nafkah. Yang duluan hadir disini kami petani, belum ada perusahaan masuk orangtua ana sudah bertani memang disini, ” tuturnya.

Sekadar bahan, usai palang berhasil dibukan pihak PT. Hengjaya Mineralindo langsung mencantumkan spanduk di seputaran TKP pemalangan yang bertuliskan ‘Kawasan terbatas. IUP No 540. 3/SK/001/Deson/2011 PT Hengjaya Mineralindo. Dilarang melakukan aktifitas atau penguasaan lahan di kawasan itu tanpa ijin. Bagi siapa selalu yang melakukan aktifitas penguasaan tanah di kawasan ini akan pada ambil tindakan hukum tegas pantas UU yang berlaku’.

Terpisah, Kabag Ops Polres Morowali, AKP. Nasruddin saat dikonfirmasi via pesan WatssApp pada Kamis (24/9/2020) mengakui bahwa, pihak Polres Morowali tidak melakukan pembukaan palang awak tersebut. Justru, yang melakukan pembukaan palang adalah pihak perusahaan sendiri.

“Yang buka adalah pihak perusahaan sendiri. Keberadaan pihak dari polres atas surat tuntutan bantuan pengamanan dari pihak kongsi PT. HM, ” tulis Kabag Ops Polres Morowali, AKP. Nasruddin.