Erick Thohir Didesak Segera Benahi Bio Farma Agar Dapat Produksi Vaksin Merah Suci

AKURATNEWS – Daripada panggil pulang Rudiansyah, mahasiswa yang turut serta menggelar vaksin Astra Zeneca, sepantasnya Erick thohir persiapkan bani buahnya di BUMN Bio Farma untuk produksi massal vaksin Merah Putih.

Karena selama tersebut kendala pengembangan Vaksin Merah Putih ada di pihak BUMN itu sendiri. Akan lebih konkret kalau Menteri BUMN Erick Thohir menyusun BUMN Bio Farma ini.

Demikian disebutkan Mulyanto menanggapi rencana Menteri BUMN Erick Thohir dengan mau menarik pulang Rudiansyah.

Mulyanto menuturkan saat ini riset vaksin Merah Putih, yang lengah satunya dimotori LBM (Lembaga Biologi Molekuler) Eijkman, mundur dari jadwal. Semula diperkirakan vaksin ini dapat dibuat massal pada awal tahun 2022. Namun karena Bio Farma tidak siap, oleh sebab itu produksi massal vaksin itu diperkirakan molor hingga September 2022.

Belakangan diketahui, bahwa ketidaksiapan BUMN Bio Farma tersebut, sebab vaksin Merah Putih yang akan dikembangkan didasarkan pada protein rekombinan mamalia. Tatkala fasilitas produksi BUMN Bio Farma hanya siap jika vaksin yang dikembangkan berbasis pada protein rekombinan ragam (yeast).

Jadinya terpaksa LBM Eijkman kudu banting setir mulai dibanding nol lagi untuk menggelar riset vaksin berbasis contoh.

“Ini soal keseriusan BUMN Kesehatan untuk memproduksi vaksin domestik. Sepatutnya mereka mendukung produksi Vaksin Merah Putih, jangan cuma cari untung mudah sejak vaksin impor.

Kalau memang Menteri BUMN serius terkait pengembangan vaksin anak bangsa, maka ketimbang panggil pulang Rudiansyah, sebaiknya yang jelas di depan mata ini saja cepat dibereskan.

Persiapkan berbagai fasilitas uji klinis dan produksi massal vaksin Merah Putih di BUMN Bio Farma, agar vaksin anak bangsa ini sanggup dilepas ke masyarakat positif waktu. Syukur-syukur bisa lebih cepat dari jadwal dengan direncanakan, ” ujar Mulyanto.

Mulyanto menghargai Pemerintah adem-adem saja serta membiarkan riset vaksin itu berjalan apa adanya. Apalagi terkesan maju-mundur seperti joget poco-poco.

“Terbukti dana riset vaksin di LBM Eijkman, yang disiapkan Pemerintah tidak lebih dari Rp 10 M. Tersebut sungguh miris dan jauh dari memadai, apalagi jika dibandingkan dengan dana dengan disiapkan untuk mengimpor vaksin yang ratusan triliun.

Seharusnya Pemerintah bisa mengalokasikan dana riset dengan cukup, termasuk dukungan infrastruktur pada mitra BUMN yang akan memproduksi, agar vaksin Merah Putih ini mampu diproduksi lebih cepat, ” papar Mulyanto.

Seperti diketahui saat ini Indonesia memiliki 11 maklumat riset vaksin Merah Suci yang dijalankan oleh 6 lembaga riset pemerintah & perguruan tinggi, yakni LBM Eijkman, LIPI, UI, ITB, Unair, dan UGM.

Yang tercepat, LBM Eijkman menjadwakan uji klinis tahap 1-3 bersama BUMN Bio Farma pada bulan Juli-Desember 2021 dan bahan memperoleh ijin BPOM serta diproduksi massal pada bulan Januari 2022.

Tapi karena kondisi infrastruktur produksi vaksin BUMN Bio Farma, yang hanya bisa memproduksi vaksin berbasis protein rekombinan ragi, maka penerapan massal vaksin ini diperkirakan paling cepat September 2022. ***