Data
Hallyu, Remaja kreativitas atau Halu?

Hallyu, Remaja kreativitas atau Halu?

Akuratnews. com – Ada begitu banyak Efek globalisasi salah satunya masuknya budaya-budaya asing ke dalam negeri. Jika selama puluhan dasawarsa, industri masyhur dunia dikuasai oleh produk cetakan Amerika Serikat (Hollywood) dan Jepang (Anime). Namun saat ini Budaya asing yang saat ini padahal terkenal yaitu kebudayaan dari Korea Selatan atau yang biasa disebut dengan Hallyu (Korean wave) gelombang Korea.

Korean wave adalah kebudayaan atau pop culture yang berasal dari Republik Korea Selatan. Dalam Korean wave diperkenalkan tentang kebudayaan Korsel melalui musik, film, drama, makanan, fashion serta juga trennya. Dari semua itu yang paling dikenal adalah musiknya yang biasa disebut dengan istilah k-pop dan drama Korea (k-drama)

Melihat antusiasme remaja di Indonesia dengan kebudayaan Korea membuat Wakil presiden RI Ma’ruf Amin berharap tren Korean pop atau K-POP dapat mendorong munculnya kreativitas anak muda Indonesia. Ia berharap anak muda lebih giat mempromosikan budaya bangsa ke dunia internasional. Tidak hanya lewat pabrik hiburan, hubungan bilateral antara Nusantara dan Korea juga semakin diperkuat pada sektor ekonomi dan baik. Beliau mengucapkan hal ini di dalam peringatan 100 tahun kedatangan karakter Korea ke Indonesia pada Minggu, 20 September 2020

Korea Selatan memang telah mengekspansi budayanya melalui jalur Entertainment ke hampir seluruh dunia di antaranya adalah negara Asia Tenggara seolah-olah Indonesia dan Singapura, Asia Timur, Asia Tengah, Amerika Serikat, & Eropa. Kebudayaan Korea Selatan dengan cepat menyebar. Orang-orang dari potongan dunia tertarik dengan semua kultur Korea baik gaya busana, kuliner, musik, perfilman, dan pariwisata jadi produk dari negeri ginseng ini laris manis.

Suatu penelitian dari Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) Kelompok Keahlian Bisnis Strategy and Marketing SBM di ITB, Reza Ashari Nasution mengungkapkan, “Korean wave” (K-Pop dan K-drama) mendaulat anak muda Indonesia sebagai “korban”. Mereka dengan mudah menjadi konsumen yang membeli produk skincare, kosmetik, pakaian hingga makanan asal Korea.

Memang Korean Wave berkontribusi cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi di Korea Selatan, sebab dalam industri musik dari tahun ke tahun terus berkembang. Dalam tahun 2013 keuntungan yang diperoleh mencapai 9, 7%, menjadikan Korea Selatan masuk kategori kedua terbesar dalam pasar musik yang tetap berkembang. Pengaruh tersebut meningkatkan perekonomian negaranya misal meningkatkan ekspor & pariwisata dalam negeri. Dengan kenaikan angka ekspor mencapai USD 43, 189. 0 juta total ekspor naik dari USD 40, 312. 73 juta.

Korean wafe nyatanya hanya menghasilkan penuh materi bagi para pelaku industrinya. Namun jika di teliti kebiasaan Korea sangatlah bertolak belakang dengan budaya ketimuran khususnya di Nusantara dan hal ini dapat merusak citra budaya timur yang terkesan sopan. Korea style cenderung menyenangkan dengan tipe kehidupan borjuis yang memicu pola hidup hedonis materialis bagi generasi. Generasi muda dengan di dorong untuk mengikuti gaya Korea akan sangat berbahaya bagi akhlak generasi karena mereka betul mudah meniru dalam semua bidang kehidupan idolanya, bahkan selain busana dan aksesoris lebih dari itu gaya hidup, makanan, minuman, tingkah laku, kepribadian akan berkiblat kepada mereka. Generasi akan kehilangan asli diri.

Indonesia dengan merupakan negeri mayoritas muslim seharusnya memiliki akhlak yang mulia. Dengan seharusnya menjadi standar baik serta buruk sesuatu. Indonesia memang bukan milik satu agama (Islam) akan tetapi Indonesia negeri yang beragama seharusnya agamalah yang menjadi tuntunan generasi. Bukan budaya luar yang mengikis akhlak generasi.