Inspeksi Lentera Anak tahun 2021, 90 Persen Pelajar Merokok

Jakarta, Akuratnews. com – Hal mengejutkan untuk generasi penerus bangsa. Pada tengah kondisi negara tersebut berjuang keluar dari permasalahan penyakit yang diakibatkan dibanding mengonsumsi rokok, justru generasi penerus bangsa yang menjadi harapan masa depan marga ini telah menjadi pengkonsumsi produk yang berasal sebab tembakau tersebut. Hal tersebut terkuak dari hasil survei yang dilakukan oleh Corong Anak Tahun 2021.

Selama periode tanggal 3 – 24 Mei 2021 Lentera Anak menghadirkan survei yang melibatkan 180 anak, dengan kriteria budak laki-laki atau perempuan, leler 10-18 tahun, dan bani yang merokok. Yang mana, survei didisain sebagai studi kuantitatif dan dilakukan di kota Jakarta, Solo, Jember, Padang, dan Mataram.

Program Manager Yayasan Lentera Anak Nahla Jovial Nisa, menjelaskan dari buatan data yang dikumpulkan sebesar 90 persen anak-anak pemakai rokok adalah mereka dengan berstatus sebagai pelajar.

“Pengumpulan data yang dilakukan dari anak-anak yang merokok sebanyak 90 persen adalah pelajar dan 10 persennya bukan pelajar. Leler koresponden, berbanding lurus secara kegiatan mereka yang madrasah paling banyak ditemukan, ” ujarnya saat menjawab redaksi akuratnews. com, Rabu 18 Agustus 2021.

Nahla menerangkan, teknik sampling menggunakan Purposive Random Sampling dimana responden didapatkan dengan acak, dengan pengumpulan data melalui pengisian kuesioner ataupun diwawancarai secara langsung, memakai instrumen lembar kuesioner.

“Tujuan survei untuk mengetahui dua hal sekali lalu, yaitu pertama, bagaimana keterpaparan iklan rokok elektronik di dalam perokok anak, dan ke-2, hubungan antara iklan cerutu konvensional terhadap preferensi mereka memilih rokok, ” katanya.

Hasil survei menunjukkan, dari sisi keterpaparan anak terhadap iklan cerutu elektronik, ada lebih lantaran separuh responden (60, 6% dari 180 anak) mengaku terpapar iklan rokok elektronik. Dan dari 60, 6% responden yang terpapar propaganda rokok elektronik tersebut, kebanyakan mereka (88, 1%) tahu iklannya di media baik. Hanya 2, 8% responden terpapar iklan rokok elektronik di televisi, dan hanya 3, 7% anak melihat iklan rokok di jalan online.

Kelanjutan paparan iklan rokok elektronik tersebut, sebanyak 78, 3% responden mengaku penasaran, serta ada 40% dari mereka ingin beralih dari cerutu konvensional ke rokok elektronik.

Sedangkan sebab sisi hubungan antara iklan rokok konvensional terhadap preferensi memilih rokok, hasil inspeksi menunjukkan hampir 100% responden (99, 4%) pernah tahu iklan rokok. Adapun iklan rokok yang paling penuh dilihat responden adalah Sampoerna (40%) diikuti oleh propaganda rokok  Gudang Garam (23%), Djarum (26%) dan Bentoel (11%). Setelah itu hasil statistik menunjukan Ada ikatan antara iklan rokok yang diingat dengan merk rokok yang dikonsumsi.

Nahla mengatakan, dari survei tersebut ditemukan anak-anak memikirkan iklan rokok paling banyak dari PT. HM Sempoerna dengan jumlah persentase 40% yang berbanding lurus secara merek paling banyak dimakan oleh anak yang berasal dari PT. HM Sampoerna dengan besaran persentase 51%.

“Telah dilakukan analisis bivariat dengan memakai aplikasi pengolah data yang menghasilkan nilai signifikansi 0, 003 yang berarti propaganda yang diingat dengan preferensi merek rokok yang dikonsumsi anak memiliki hubungan, ” imbuhnya.

Lentera menegaskan, survei yang dilakukan merekomendasikan adanya kebijakan pelarangan iklan rokok secara total karena sudah terbukti tersedia hubungan antara iklan rokok dengan pemilihan anak terhadap merek rokok.

“Perlu kebijakan kuat untuk mengatur rokok elektronik supaya anak tidak mendapatkan muatan ganda dari rokok, mengikuti perlunya kebijakan komprehensif buat melarang iklan rokok elektronik di sosial media, ” pungkasnya.