Data
Kata sepakat Pegiat Perlindungan Soal Eksploitasi Bujang di Produk Rokok

Kata sepakat Pegiat Perlindungan Soal Eksploitasi Bujang di Produk Rokok

Akuratnews. com – Menunjuk pada UU No. 35 tentang Perlindungan Anak pasal 76I ditegaskan bahwa “Setiap orang dilarang membawa, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan ataupun turut serta melakukan eksploitasi dengan ekonomi dan atau seksual kepada anak”. Hal tersebut yang mendasari, sejumlah pegiat perlindungan anak sebab berbagai kota di Indonesia dan pakar hukum pidana sepakat kalau promosi rokok yang melibatkan anak merupakan bentuk eksploitasi anak.

Selain dari itu pada pasal 76J ayat 2 ditegaskan “Setiap orang dilarang dengan berniat menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan anak dalam penyalahgunaan serta produksi dan distribusi alcohol dan maujud adiktif lainnya.

Ahli Perlindungan Anak, Prof. Irwanto, mengisbatkan salah satu hak anak ialah hak kesehatan dan kesejahteraan pokok. Di mana anak berhak menebus standar kehidupan yang layak agar mereka berkembang baik fisik, mental, spiritual, moral dan sosial secara baik.

Dalam jalan melindungi anak dari bahaya cerutu perlu dilakukan sejumlah langkah serius untuk melindungi tumbuh kembang anak agar mereka mendapatkan “awal dengan bagus”. Karena itu, dalam konteks keluarga, orang tua yang segar sangat dibutuhkan untuk menjamin keberlangsungan hidup anak yang sehat.

“Dalam konteks menciptakan asal yang bagus ini tidak agak-agak jika pengampu lebih memilih membeli rokok daripada lauk yang bergizi. Apalagi jika orang tua anak sakit-sakitan dan meninggal akibat merokok, akan sangat berdampak pada terganggunya keberlangsungan hidup anak, ” ujarnya, saat Media Briefing bertema “2 Dekade Gugatan Promosi Rokok secara Eksploitasi Anak Dulu dan Sekarang” yang diselenggarakan Yayasan Kepedulian untuk Anak Surakarta (KAKAK) dan Yayasan Lentera Anak (YLA), Rabu, 25/11/2020, di Solo, Jawa Tengah.

Prof Irwanto menambahkan, sekalipun sebagian pihak menganggap industry cerutu memiliki kontribusi besar dalam perekonomian, hal ini sangat jauh tidak sepadan dengan dampak yang ditimbulkan dari bahaya rokok, khususnya dampak kepada generasi muda yang hendak menjadi penerus di masa pendahuluan.

Melihat promosi cerutu yang massif baik di warung maupun di internet, para pegiat perlindungan anak tidak tinggal pasif menanggapi promosi rokok yang massif menyasar anak.

Taat Emmy L Smith, sejak 20 tahun lalu Yayasan KAKAK telah mengajukan gugatan terhadap promosi rokok, yakni gugatan legal standing terhadap PT. BAT Indonesia di Pengadilan Negeri Surakarta dengan register pengikut nomor: 127/Pdt. G/2000/PN. Ska.

Peristiwa tersebut bermula daripada langkah PT. British American Tobacco (BAT) Indonesia Tbk yang meluncurkan merek rokok bernama Pall Mall. Promosi produk ini baru dikerjakan di enam kota, salah satunya di Solo Jawa Tengah.

Promosi itu diberi perkara Naked Cantest. Dalam kontes ini, bagi gadis remaja yang bagak membuka pakaiannya seminimalis mungkin hendak mendapakan gelar “Ratu Telanjang” dan di beri hadiah Rp. 500. 000.

“Promosi rokok Pall Mall ini memang diperuntukan bagi oang dewasa tetapi penuh anak yang menonton. Padahal dalam acara promosi ini ada pertandingan dimana peserta berlomba-lomba menanggalkan aksesoris, serta adanya peragaan busana yang seronok yang tidak sesuai dengan nilai budaya karena pesertanya menggunakan busana yang sangat minim tenggat ada yang hanya mengenakan baju dalam, ” kata Emmy.

Ia menegaskan, promosi Pall Mall ini telah melanggar sebesar peraturan, yakni UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, PP No. 81/1999 tentang Pengamanan Rokok Untuk Kesehatan, Surat Keputusan Dirjen Wisata No. 14/U/II/1988 tentang Pelaksanaan Ketentuan Usaha dan Penggolongan Hotel, Tata Krama Periklanan Indonesia, serta SKB Mendagri dan Menhan dan Kebahagiaan RI No. 153 /1995 serta No. KEP/12/XII/1985 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perijinan.

Dalam gugatannya, Yayasan Kakak menuntut PT. BAT Indonesia berikut agen promosinya menodong maaf kepada masyarakat Solo & menuntut promosi naked contest pada beberapa kota lain dihentikan.

Yayasan Kakak di dukung 12 pengacara dari berbagai institusi bantuan hukum yang tergabung pada Tim Pembela Hukum Korban Pall Mall dan ada 14 institusi yang tergabung Tim Advokasi Target Pall Mall (TAK Pall Mall).

Dalam pengajuan gugatan tersebut ada beberapa kendala dengan mereka temui, antara lain tahanan teknis tidak dapat menghadirkan salah satu tergugat, proses pengadilan dengan lama atau kurang lebih setahun (Desember 2000 – 12 November 2001) sehingga sangat menguras tenaga, pikiran dan materi, serta kendala non teknis seperti adanya pro kontra di masyarakat, ancaman & teror agar penggugat mencabut gugatan, serta masih kurangnya pemahaman Ketua terhadap gugatan legal standing.

Pada akhirnya pokok kejadian gugatan tidak dikabulkan tapi benar standing Yayasan Kakak diakui ataupun diterima, dan PT BAT meninggalkan tour promosi ke-3 Indonesia di Kota Solo dari rencana awal di 10 kota.

Gugatan terhadap promosi rokok sejak dua puluh tahun lalu maka saat ini merupakan proses penelaahan bagi pegiat perlindungan anak bagaimana membangun jejaring dan membangun pendidikan praktis di masyarakat.