Kegelisihan Besudut Terhadap Warsi

Jambi, Akuratnews. com– Hanya berkuliah selama 3 semester, Besudut tak lagi tinggi. Pemuda dari Orang Hutan raya dengan nama administrasi Irman Jalil ini menyesalkan dukungan setengah hati dari KKI Warsi. Ia dibantu menyelap kuliah oleh KKI Warsi tapi merasa tak didukung penuh. Beragam masalah dengan ia temui di perkuliahan tak menemukan solusi.

“Dulu yang memasukkan nama saya berkuliah di Universitas Jambi Muara Bulian adalah Warsi. Setelah itu dicarikan kos di Muara Bulian, ” ujar Besudut pada Kamis 12 Agustus 2021, melalui siaran pers kepada akuratnews. com.

Ia didaftarkan belajar di Fakultas Pendidikan Tutor Sekolah Dasar, Universitas Jambi Muara Bulian oleh Warsi. Masuknya Besudut kuliah menjadi keinginan besar Warsi biar kelak ia menjadi guru bagi Orang Rimba lainnya. Kabar ini pun berputar dan menjadi catatan nyata Warsi di mata dunia.

Namun bertentangan bagi Besudut. Menurutnya, dia justru merasa ditinggal sejenis saja. Dunia perkuliahan menjelma hal baru yang lulus rumit untuknya. Ia menghadapi kegagalan dalam beberapa ceroboh kuliah sehingga harus meneruskan. Ia tak tahu ke mana harus bertanya buat dapat menghadapi persoalannya.

“Kalau memang mereka (Warsi) mau Orang Hutan raya sekolah, bantulah dia datang lulus. Kalau ingin Orang Rimba kuliah, bantulah datang dia bisa selesai. Ini tidak, saya ditinggal begitu saja. Sudah didaftarkan, telah itu dilepaskan begitu saja. Saya pun bingung, ” tuturnya.

Besudut mengenang perjuangannya sewaktu bersekolah. Saat SMP, ia berjalan kaki dari hutan Rajin Nasional Bukit Duabelas, Makekal Tengah menuju sekolahnya. Dia memperkirakan, butuh waktu sekitar 3 jam perjalanan.

Sebelumnya, ia diangkat anak oleh seorang masyarakat di Rantau Panjang. Selama ia tinggal bersama wali angkatnya, ia sering pergi bermain di sekolah dasar Rantau Panjang hingga ia ditanyai oleh salah seorang guru.

“Kenapo kamu ke sini, mau sekolah? Gitu katanya, saya jawab, kalau Ibu masukkan saya sekolah, saya bersetuju sekolah, ” ujar Besudut menceritakan.

Perut bulan setelah itu Besudut pun bersekolah. Ia alhasil menyelesaikan sekolah dasarnya di tahun 2006. Pada tarikh 2013 ia menyelesaikan SMA-nya,   kemudian ia tahu kembali ke dalam (Taman Nasional Bukit Duabelas). Selanjutnya  ia menjadi  tenaga honor di kantor Dinas Sosial Bangko, dari 2015 had 2016. Saat ini Besudut bekerja sebagai tenaga honor di Kecamatan Rantau Limau Manis sejak tahun 2017. Sembari menjadi tenaga honor, ia juga bekerja mengeluarkan getah karet di kebun orang yang meminta bantuannya.

“Sebenarnya ana terbantu, saat ada dengan mau sekolah, ada dengan sakit, kami dibantu jaga. Tapi, setelah sekolah, telah itu sudahlah dilepaslah. Dak dibantu lagi. Seharusnya, jika mau masukkan anak madrasah, uruslah hingga tamat sekolah. Ini tidak, di tengah perjalanan kami ditinggal begitu saja. Itulah yang menghasilkan Orang Rimba banyak putus dengan Warsi, ” cakap Orang Rimba kelahiran Makekal Tengah ini.

Permata dari Orang Hutan raya yang gagal bersinar tersebut terkesan dipaksakan untuk mengenyam bangku kuliah namun tak didampingi dengan serius. Ia tak lagi berharap buat bisa berkuliah. Saat itu ia berangan untuk bisa diangkat menjadi Pegawai Jati Sipil meski hanya mengantongi ijazah SMA.

Gajinya sebagai tenaga honor sejumlah Rp 500 seperseribu belum cukup sehingga kudu ia tutupi dengan bekerja menyadap karet di sisa waktunya. Ia bekerja di kantor kecamatan dari Senin hingga Kamis setiap minggunya.