Data
Kemensos Perkuat ATENSI Bagi Korban Penyalahgunaan Napza

Kemensos Perkuat ATENSI Bagi Korban Penyalahgunaan Napza

Bandung . Akuratnews – Pencegahan Dari efek negatif yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan Napza masih terus diupayakan negeri.

Melalui Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial digagas sebuah program baru dalam kecendekiaan penanganan terhadap korban penyalahgunaan Napza.

Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos RI, Harry Hikmat mengatakan, Kementerian Sosial (Kemensos) MENODAI mengeluarkam kebijakan dalam Rehabilitasi Baik bagi Korban Penyalahgunaan Napza.

“Kebijakan Kemensos dalam Upaya penanggulangan dilakukan antara lain secara pendekatan Demand Reduction, yaitu menekan permintaan akan Napza (detoksifikasi, rehabilitasi medik dan rehabilitasi sosial) & Harm Reduction, yaitu mengurangi pengaruh buruk (program penjangkauan dan pendampingan, program pendidikan), ” kata Harry Hikmat pada kegiatan Diklat Penasihat Adiksi Putaran I Tahun 2020 yang diselenggarakan Balai Besar Pendidikan Dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Padang. Rabu (12/8/2020).

Dijelaskan Harry, upaya tersebut dikerjakan melalui Program Asistensi Rehabilitasi Baik (ATENSI) dengan 3 pendekatan, yakni berbasis keluarga, komunitas dan residensial. Pendekatan berbasis keluarga lebih diutamakan karena keluarga jadi tempat unggul untuk memenuhi kebutuhan fisik & psikis.

“Hasil survey menunjukkan para korban penyalahgunaan Napza sebagian besar orang tuanya masih hidup, baik di perkotaan atau pedesaan serta berada di lingkungan yang memberikan upaya pencegahan, melarang, menasehati atas kemungkinan menggunakan narkoba. Kelekatan antara orang tua & anak masih terjalin baik, ” jelasnya.

Sebagian besar pengguna narkoba masih tinggal berhubungan keluarga. Artinya seseorang itu terpapar narkoba sangat dimungkinkan karena upaya untuk mencegah, mengontrol, mengawasi kepribadian anggota keluarga tidak optimal.

“Kemensos melihat Pentingnya membangun strategi rehabilitasi sosial berbasis tanggungan, karena survey menunjukkan bahwa tanggungan bisa menjadi instrumen dalam cara rehabilitasi sosial dan pencegahan, biar muncul resiliensi dari anggota asosiasi itu sendiri, ” ungkap Harry.

Target group/ruang lingkup sasaran Ditjen Rehabilitasi Sosial kira-kira 75, 4 Juta jiwa Pemerlu Pelayanan Rehabilitasi Sosial (PPKS), salah satunya Korban Penyalahgunaan NAPZA sebanyak 3, 6 Juta jiwa berdasarkan data dari BNN & Puslitkes UI Tahun 2019).

“Rehabilitasi sosial KPN bertujuan biar KPN mampu melaksanakan keberfungsian sosialnya yang meliputi kemampuan dalam melaksanakan peran, memenuhi kebutuhan, memecahkan urusan dan aktualisasi diri, dan terciptanya lingkungan sosial yang mendukung kejayaan rehabilitasi sosial KP Napza, ” paparnya.

“Narkotika menjadi musuh bersama karena sangat mempengaruhi sikap dan perilaku korban dengan terpapar Napza, ” tambah Harry.

Ada 3 (tiga) faktor yang saling terkait yang mempengaruhi perilaku penyalahguna Napza, prima faktor Individu seperti ingin coba-coba, ikut-ikutan, Ingin disebut pemberani, biar diterima kelompok, bersenang-senang, lari sejak masalah, mengisi kebosanan dan lesu kemampuan menghadapi tekanan hidup.

Kedua, faktor lingkungan bangsa seperti Lingkungan Permisif, Apatis, Individualis, tingkat kepadatan penduduk melampaui batas kelayakan huni (fisik, psikis & sosial), sistem pengawasan di sekolah longgar dan kebijakan terlalu soft terkait penyalahgunaan narkoba.

“Dan yang ketiga adalah faktor keluarga yaitu orangtua terlalu keras/terlalu permisif, terlalu sibuk, tidak cocok / bercerai, orang tua dengan juga pemakai dan omunikasi antar anggota keluarga tidak lancar, ” Jelas Harry.

Taat Harry, salah satu metode rehabilitasi baik bagi KPN adalah Theraupetic Community (TC), yaitu suatu metode rehabilitasi sosial yang ditujukan kepada Target Penyalahgunaan Napza yang merupakan suatu “keluarga” terdiri atas orang-orang dengan mempunyai masalah dan tujuan yang sama, yaitu untuk menolong diri sendiri dan sesama yang dipimpin oleh seseorang dari mereka jadi terjadi perubahan tingkah laku dari minus ke arah yang positif.

“Tantangan bagi kita seluruh dan para Konselor Adiksi untuk lebih giat mempromosikan berbagai upaya pencegahan maupun upaya rehabilitasi sosial bagi yang sudah terlanjur terpapar narkoba. Upaya tersebut bisa secara cara menginformasikan keberadaan pusat-pusat servis rehabilitasi sosial, ” ungkap Harry.

Ada juga beberapa metode yang sangat relevan dengan para konselor antara lain Home Care, Parenting skills, Family Preservation, Konseling Keluarga.

Kunjungan ke rumah (home visit) anak korban secara intensif untuk mengalami masalah, menerima kondisi, dan berbagi pengalaman dan perasaan serta saling mendukung untuk proses pemulihan KPN (terapi psikososial).

Namun parenting skills dilakukan untuk meningkatkan pemahaman orangtua tentang pola pengasuhan/perawatan/ perlindungan yang tepat untuk KPN. Parenting skills dilakukan untuk rumpun baik ketika anggota keluarga/ penyambut manfaat dalam proses layanan rawat inap, rawat jalan maupun untuk masyarakat umum.

Family Preservation untuk menjaga kondisi serta keberlangsungan PM di lingkungan rumpun, terutama ada indikasi konflik/ penolakan/ perlakuan salah/ kekerasan, maka dilakukan berbagai upaya meliputi Dialog Tanggungan, Mediasi dan Reintegrasi keluarga.

Terakhir, Konseling Keluarga dengan tidak hanya dilakukan untuk KPN, namun konseling juga dilakukan bagi Keluarga agar terdapat keselarasan di dalam pemulihan KPN.

Dirjen Rehsos berharap Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS)/Balai/Loka kedepan bisa berfungsi maksimal, menjadi pusat layanan kepada tanggungan (family support) dan masyarakat (participatory community empowerment), sementara LKS berfungsi sebagai temporary shelter, early intervention berbasis manajemen kasus serta melaksanakan Praktek Pekerjaan Sosial Profesional (outreaching, tracing, daycare, social assistance, home visit, family mediation, family support, family preservation, family reunification/ reintegration, community development, sosialisasi/ awareness raising, kampanye sosial dan lainnya.

Diklat Konselor Adiksi Fragmen I Tahun 2020 diikuti 55 orang Konselor Adiksi yang bertugas di Institusi Penerima Wajib Melapor (IPWL) di wilayah regional Sumatera. (akuratnews).