Data
Kunjungi Indonesia, AS dan Tiongkok Rebutan NU?

Kunjungi Indonesia, AS dan Tiongkok Rebutan NU?

Jakarta, Akuratnews. com – Setelah Perdana Menteri (PM) Jepang Yoshihide Suga mengunjungi Jokowi, kini putaran Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo dengan mengunjungi Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat (Jabar).

Hampir sama dengan Suga, kunjungan Pompeo ini kurang bertambah juga membicarakan kerja sama jarang kedua negara, termasuk perihal kerja sama ekonomi, investasi, dan kerja sama pertahanan. Banyak juga yang menilai bahwa kunjungan Menlu GANDAR ini – mirip dengan Suga – juga berkaitan dengan status geopolitik di Asia-Pasifik dengan kebangunan Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Namun, uniknya, Pompeo tidak hanya mengunjungi dan bertemu dengan Presiden Jokowi dan pejabat lainnya, seperti Menlu Retno Marsudi. Kunjungan ini juga dilakukan dengan berbahasa di sebuah forum yang dijalankan oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor, kelompok sayap pemuda dari Nahdlatul Ulama (NU).

Tentu saja, kunjungan Pompeo ini membuat sejumlah pertanyaan – mengingat pemerintahan Donald Trump di AS juga kerap bertentangan dengan kelompok-kelompok Islam, termasuk di Indonesia. Bahkan, eksistensi Menlu AS di depan kalangan NU ini dinilai memiliki pola politis tertentu di baliknya.

Lantas, mengapa AS ngerasa perlu untuk ‘menggandeng’ organisasi-organisasi Islam di Indonesia seperti NU? Kepentingan apa yang kemungkinan ingin dicapai oleh Pompeo?

Halau Radikalisme?

Peran organisasi-organisasi Islam seperti NU dan Muhammadiyah di Indonesia sesungguhnya dianggap penting di dunia. Bagaimana tidak? Dua organisasi ini mampu saja dibilang sebagai dua pola Islam terbesar di dunia – sekaligus masuk dalam daftar sistem Islam yang toleran menurut penuh pihak.

Upaya yang dilakukan AS untuk menggandeng organisasi-organisasi masyarakat (ormas) Islam ini mampu jadi merupakan upaya diplomasi dengan disebut sebagai diplomasi publik. Muslihat jenis ini merupakan diplomasi yang dilakukan dengan masyarakat sebagai targetnya.

Jan Melissen pada bukunya yang berjudul The New Public Diplomacy menjelaskan bahwa upaya untuk membangun hubungan dan citra di masyarakat asing bukanlah situasi baru dalam diplomasi. Bahkan, sejak zaman kuno, upaya untuk menggandeng masyarakat asing telah terjadi dalam Roma dan Yunani.

Salah satu tujuan utama melayani diplomasi publik adalah untuk menghasilkan soft power. Joseph Nye, Jr. dalam tulisannya yang berjudul Public Diplomacy and Soft Power membaca bahwa soft power merupakan gaya untuk membuat aktor lain menginginkan hal yang sama.

Upaya-upaya diplomasi publik seperti ini dapat dilakukan dengan beragam cara dan program. Beberapa di antaranya adalah dengan melakukan pertukaran budaya, program beasiswa, pertukaran pelajar, maka pidato langsung di hadapan publik sasaran.

Selanjutnya 1 2 3 4