Melalui Podcast [email protected] ASIK, Arzeti Bilbina Tunjukkan Komitmennya Cegah Bayi Balita dan Janin Dari Bahaya BPA

Jakarta, Akuratnews. com- Arzeti Bilbina SE, M. A. P anggota DPR MENODAI Komisi IX, dari Fraksi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) berkomitmen akan terus mengedukasi  masyarakat, utamanya ibu-ibu supaya aware terhadap bahaya bisa Bisphenol A atau BPA. Sehingga Ibu-ibu bisa memutuskan dan memilah plastik dengan aman digunakan untuk anak.

Itulah yang diungkapkan Arzeti Bilbina masa menjadi bintang tamu podcast acara [email protected] ASIK (Baca Pas Asik-red) yang dipandu  Ketua Komnas Perlindungan Budak, Arist Merdeka Sirait di Rabu, 4 Agustus 2021 lalu, di Studio Komnas Tv Anak, Jalan TB Simatupang No 33, Pasar Rebo Jakarta Timur.

Sebagai anggota legislatif dari Komisi IX yang merupakan mitra kerja BPOM (Badan Pengawas Obat Makanan dan Minuman) Arzeti berjanji akan membawa fenomena Bisphenol A ke rapat kerja dewan. Selain itu, Arzeti juga akan menyampaikan & mengingatkan kembali  kepada Sopan santun BPOM untuk melengkapi Perka Bpom yang sudah tersedia, dengan peraturan mencantumkan etiket peringatan konsumen pada paket plastik No. 7 dengan mengandung BPA.

“Kami telah sampaikan tepat kepada Ka BPOM,   saat rapat kerja dengan BPOM. Kami mengapresiasi bagian BPOM yang secara responsif membahas masalah BPA itu. BPOM telah melakukan 3 kali FGD (Forum Group Discusion) khusus membahas BPA. Kami berharap BPOM Lekas memberi label peringatan konsumen pada kemasan plastik dengan mengandung BPA, ” kata wanita kelahiran 4 September 1973 ini.

Masih menurut Arzeti, BPOM telah melakukan uji terhadap kemasan plastik. Dan hasilnya masih di bawah ambang batas. Batas toleransi yang dilkeluarkan BPOM adalah 0, 6 BPJ. Sedang bersandarkan hasil uji, berada pada 0, 03 BPJ.
“Memang itu jauh dibanding ambang batas. Tapi buat bayi, balita dan lembaga harus FREE BPA. Kudu 0 BPJ. Kita tak berani mengambil risiko,   atau biar aman diberi label seperti pada susu kental manis yang bersuara tidak cocok untuk budak. Seperti pada kemasan cerutu ada peringatan bahaya, merokok dapat menimbulkan gangguan  dalaman, impotensi dan kehamilan, ” tandas Arzeti.

Arzeti salah seorang publik figur yang cepat menelaah dan tanggap akan status lingkungan.   Dengan rendah hati Arzeti mengaku bahwa pengetahuan seputar bahaya plastik BPA didapatkan saat mendatangi acara peringatan Hari Bujang Nasional  di Auditorium Komnas Perlindungan Anak pada  29 Juli 2021 lalu.
Menurutnya, sepulang menghadiri agenda peringatan Hari Anak Nasional,   Arzeti langsung membuktikan seluruh peralatan yang dibuat dari plastik. Baik peralatan dahar,   minum,         tempat bumbu dapur dan lain-lain. Semua wadah plastik yang tak ada tulisan ‘Free BPA’ dibuang ke tempat sampah.

“Jadi sampai di rumah saya kontrol seluruh peralatan makan serta minum saya periksa utama –persatu. Botol-botol plastik. Untunglah hampir semua mempunyai tanda ‘Free BPA’ yang tidak ada kode tersebut kami buang, ” tutur  bekas model ini.

Disampaikan kepada Arist Mandiri Sirait, bahwa Arzeti mengiakan mendapat banyak teguran menggunakan ponselnya setelah mengikuti sidang kecil tentang Bahaya Bisphenol A di acara Peringatan Hari Anak Nasional. “Rupanya banyak yang kebakaran jenggot, ” seloroh Arzeti.

Tapi Arzeti bakal terus maju memberikan les kepada ibu-ibu tentang kecelakaan BPA. Sebab bahaya ditimbulkan itu bisa terganggu tumbuh kembangnya, kemudian nanti ke depannya mereka akan tersentuh kanker. Itu adalah aware kita sebagai ibu dengan tidak peduli dan tak mau mengetahui dan memahami.

Pada Closing Statement, Arist Merdeka Sirait mendesak BPOM sebagai regulator segera memberi label keterangan konsumen pada kemasan galon ulang,   karena sejak kemasan galon guna kembali inilah, berpotensi terjadi migrasi BPA ke wadah santap bayi atau botol susu.

“Label rujukan konsumen ini perlu dicantumkan dalam kemasan galon guna ulang untuk melindungi zaman depan bayi, balita & janin yang dikandung sebab ibu hamil agar tidak terpapar zat yang berbahaya  yang dapat mengakibatkan terganggunya hormonal perkembangan organ tubuh    dan perilaku beserta gangguan kanker di kemudian hari, ” ungkap Arist Merdeka Sirait.

Masih menurut Arist Langgas Sirait, bahwa di kaum negara seperti Belgia (2012),   Swedia (2012), Prancis (2012), Canada (2012), Denmark (2013) dan tahun 2018 melalui lembaga Internasional SGS mengeluarkan kompilasi regulasi dunia pelarangan BPA yang kontak dengan keamanan pangan.

“Di tahun 2018 Kementerian Kesehatan RI mengeluarkan pedoman bimbingan teknis perizinan pembekalan kesehatan rumah tangga, salah satunya botol balita dan bayi yang kudu ada sertifikat bebas BPA. Demikian juga di tahun 2021, Jepang merilis bahwa BPA      membuat risiko autisme. FDA Filipina juga mengeluarkan larangan BPA untuk botol balita serta bayi. Namun sayangnya di Indonesia pengaturan BPA belum diatur secara ketat. Sebab sebab itu ada baiknya kemasan galon isi ulang yang mengandung BPA diberikan label peringatan konsumen, biar tidak dikonsumsi oleh bayi, balita dan janin dengan dikandung ibu hamil, ” tandas Arist.

Ditegaskan Arist, negara Asia termasuk Indonesia telah melarang penggunaan kemasan plastik No. 7 polikarbonat yang mengandung BPA,   yang dengan langsung bersentuhan dengan wadah  atau tempat yang dipergunakan untuk konsumsi makanan serta minuman bayi, balita serta janin. Contoh, seperti botol bayi harus free BPA. Dikarenakan kemasan plastik galon guna ulang atau galon isi ulang yang terdiri dari polikarbonat yang nyata mengandung BPA, sementara penuh ibu-ibu membuat susu dari air yang diambil dibanding galon isi ulang, maka Komnas Perlindungan Anak mendesak BPOM memberikan label peringatan konsumen.