Data
Mempertimbangkan Kebijakan Sekolah Dibuka Kembali

Mempertimbangkan Kebijakan Sekolah Dibuka Kembali

Akuratnews. com – Kemendikbud tetap berencana membuka sekolah di tahun ajaran baru. Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Iwan Syahril mengisbatkan bahwa tidak akan melakukan pengunduran tahun ajaran baru. Pihaknya sedang mengkaji model pembelajaran apa yang akan diterapkan melalui daring atau tatap muka kembali. Pembukaan madrasah diutamakan untuk wilayah yang telah dinyatakan bebas dari penyebaran virus corona. Pihak Kementerian menyontohkan dalam Korea Selatan telah melakukan kegiatan kembali setelah aman dari corona. Hal inilah yang menjadi pertimbangan dalam menentukan arah kebijakan pelajaran.

Kebijakan ini adalah tindak lanjut atas rencana pemerintah untuk berdamai dengan corona. Kementrian Koordinator Perekonomian telah melakukan kajian awal. Kajian tersebut adalah panduan untuk menentukan kebijakan pemulihan ekonomi dari pandemi Covid-19. Dalam kajian tersebut direncanakan bahwa sekolah mau mulai dibuka pada tanggal 15 Juni 2020. Pembukaan sekolah tarikh ajaran baru dilakukan dengan tentu menerapkan pembatasan jarak dan beberapa penyesuaian.

Atas dialog kebijakan tersebut, sejumlah kalangan menyatakan pendapatnya. Peneliti di Pusat Studi Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Anggi Afriansyah berpendapat, membuka madrasah sangat berisiko. Pembukaan kembali sekolah tanpa memperhitungkan berbagai risiko bakal menambah penyebaran Covid-19. Apalagi kalau anak yang harus menggunakan pemindahan publik. Di pihak lain, Kemenko PMK, Agus Sartono mengatakan pembukaan kegiatan belajar di sekolah di dalam pertengahan Juli 2020 masih berisiko. Beliau mengatakan bahwa perlu menyungguhkan keamanan lingkungan siswa dan pendidik dari virus corona. Kebijakan membuka kembali sekolah perlu memastikan adat kesehatan berjalan dengan baik untuk mencegah virus corona. Pembukaan madrasah yang paling realistis menurutnya ialah awal bulan Agustus.

Kekhawatiran juga dikemukakan oleh Pemangku Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Instruktur Indonesia, Satriawan. Ia cemas kalau siswa dan guru menjadi korban covid-19 jika sekolah dibuka kembali. Ia juga menyangsikan koordinasi Pemerintah Pusat dan Daerah yang terlihat tidak sinkron dalam penanganan corona. Satriawan menjelaskan bahwa Pembukaan madrasah harus disingkronkan dengan data kejadian dan penyebaran corona di tiap daerah. Jangan sampai daerah yang masih dalam pengawasan diperbolehkan menelungkupkan sekolah. Beliau juga menilai ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan terkait pembukaan sekolah. Misalnya menyusun teknis penyelenggaraan PPDB serta infrastruktur pendukung terkait penanganan corona di sekolah. Kekhawatiran juga dikatakan oleh orangtua calon murid yang dikutip dalam wawancara Youtube Najwa Shihab. Ibu Widyawati mengaku was-was menanamkan anaknya ke SD kelas utama sebelum kasus Covid-19 ini telah benar-benar mereda.

Kebijakan pembukaan sekolah kembali tentu kudu dilakukan dengan matang. Rencanya itu jika dilakukan tanpa pertimbangan sejak dokter sebagai rujukan akan mendatangkan petaka. Pasalnya menurut ahli & PBB, virus corona ini sudah bermutasi dan menjadi semakin ganas. Bahkan WHO menyatakan bawah mungkin virus corona tetap akan tersedia di muka bumi dalam jangka maktu yang lama. Virus itu dapat menjadi endemi seperti virus DBD yang hadir musiman. Negeri perlu benar-benar mengkaji lagi kebijakan ini dengan sangat matang. Tanpa sampai korban nyawa melayang karna salah urus pemerintah.

Tren kasus corona belum menemukan puncaknya. Ahli biostatistik Eijkman Oxford, Iqbal Elyazar mengatakan bahwa kurva yang disampaikan pemerintah setiap harinya kepada publik bukanlah kurva epidemi yang sesuai standar ilmu. Lihai di Indonesia menyatakan kebingungan serta kesulitan melihat perkembangan kasus dengan sesungguhnya di dalam negeri. Patuh ahli, kurva yang menurun belum tentu karna kasusnya menurun. Negeri dinilai tidak transparan masalah masukan jumlah pemeriksaan yang sudan dilakukan di lab di setiap daerah. Intensitas pemeriksaan dalam mendeteksi orang yang positif terbilang rendah. Menyelaraskan keadaan di Indonesia dengan Korea Selatan tentu sangatlah timpang. Indeks kesehatan di Korea Selatan menempati urutan kedua dalam laman kedudukan Numbeo. com. Sedang Indonesia beruang pada urutan ke-55. Tentu betul jauh membandingkan keadaan Korea Selatan dengan Indonesia. Sejak awal pandemi terjadi, Korea Selatan termasuk yang paling sigap dalam menangani kesehatan tubuh warganya. Data yang transparan & pelayanan yang baik sudan dijalankan di Korea Selatan.

Pemerintah perlu segera memastikan kalau virus corona ini telah benar-benar mereda sebelum kebijakan sekolah dibuka dilakukan. Jika pemerintah tidak mengingat saran dari para ahli oleh sebab itu akan semakin menegaskan bahwa Negeri adalah penguasa yang tidak kompeten dalam mengurus rakyatnya. Hadist Nabi tentang pemimpin Ruwaibidhah akan semakin terbukti. Rasulullah menegaskan bahwa akan datang masa penuh penipuan. Jika seorang yang jujur malah didustakan, sedang pengkhianat malah dipercaya. Saat itu Ruwaibidhah akan berbicara. Ruwaibidhah adalah orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat besar.

Lalu bagaimanakah penguasa Islam membuat kebijakan. Jika dasar benar Presiden serupa tengan Khalifah Umar, maka kebijakannya pun seharusnya sama dengan Umar. Saat pagebluk terjadi di negeri Syam. Umar pun bermusyawarah dengen para saudara yang ahli dari kaum Muhajirin dan Anshar. Kemudian Abdurrahman bin Auf yang datang terlambat mengatakan hadits Nabi tentang karantina. Kepemimpinan Umar telah mengambil langkah yang sangat bijaksana. Pertimbangan Khalifah Umar adalah untuk menyelamatkan orang banyak aga tidak dibinasakan oleh epidemi. Begitulah seharusnya pemimpin sejati dalam Islam.