Data
Pandemi Covid-19 Kikis Angka Sidang Kasus Perceraian di Depok

Pandemi Covid-19 Kikis Angka Sidang Kasus Perceraian di Depok

Depok, Akuratnews. com semrawut Pandemi Covid-19 ternyata beri konsekuensi turunya angka sidang kasus perceraian di Pengadilan Negeri Agama (PNA) Kelas 1A Kota Depok, Jawa Barat.

Jumlah angka kasus perkara yang ada pada PNA Kelas 1A Depok had Oktober 2020 tercatat sebanyak 3244 perkara. Sedang, data perkara merembes di PNA tahun lalu sebesar 3664 perkara.

“Angkanya menurun dibandingkan pada tahun semrawut. Perkara yang masuk sejak Januari hingga Oktober 2020 dan sudah selesai sidang sebanyak 3244 urusan, ” ucap Panitera Pengadilan Jati Agama Depok Nanang Patoni, Kamis, (12/11/2020).

Menurutnya, semenjak pandemi Covid-19, PNA Depok tidak mengelar sidang selama lima kamar sejak April hingga Agustus 2020. Saat kembali digelar sidang, PNA juga lakukan pembatasan jumlah berkas perkara yang masuk.

“Karena areanya kecil, kami kerjakan pembatasan guna mengurai dan mengurangi penumpukan para pihak yang berperkara. 15 berkas pendaftaran perhari, ” jelas Nanang.

Daripada angka 3244 perkara yang ditangani PNA Depok, kata Nanang, macam perkaranya gugat cerai, cerai talak dan harta gono-gini dan telah selesai putusan masa sidang.

“Sebanyak 2192 perkara diantaranya putus dari perceraianya dengan mayoritas karena perselisihan yang terjadi terus menerus, ” ujarnya Nanang kepada Akuratnews. com.

Nanang memasukkan, mayoritas berkas perceraian yang mendalam lebih banyak diajukan oleh bagian istri yang sebagai pengugat memegat.

“Persentase angkanya mencapai sekitar 76, 45 persen. Memegat talak sebesar 23, 55 persen, ” katanya.

Terkait pandemi Covid-19, pihak PNA Kelas 1A Depok juga tak menerapkan lagi pelayanan satu pintu beserta membagi waktu jadwal sidang.

Pemberlakuan layanan satu kesempatan yang sebelumnya diterapkan terdiri dibanding layanan pendaftaran, informasi dan pengambilan akte cerai.

“Kami juga melarang orang yang pantas berperkara agar tidak membawa para-para pihak keluarga sebagai langkah memori terjadinya penumpukan orang, ” pukas Nanang.