Data
Perkataan Alumni UII Kecam Teror Terhadap Prof Dr Ni’matul Huda

Perkataan Alumni UII Kecam Teror Terhadap Prof Dr Ni’matul Huda

Yogyakarta, Akuratnews. com – Para pengacara yang tergabung dalam Advokat Alumni Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (FH UII) Yogyakarta meminta Polda DIY untuk memberikan perlindungan kepada Kiai Besar Hukum Tata Negara UII, Prof Dr Ni’matul Huda SH MHum.

Selain tersebut para alumni juga mendesak Kepolisian mengusut kasus serta menangkap karakter teror yang menimpa guru luhur mereka, pasalnya apa yang dilakukan pelaku telah mengancam keselamatan maupun nyawa Ni’matul Huda.

Koordinator Advokat Alumni FH UII Yogyakarta, Aprillia Supaliyanto SH mengucapkan, teror dan intimidasi tersebut, menentang Pasal 28E dan F Peraturan Dasar (UUD) NRI 1945, di mana hak setiap orang buat menyuarakan pendapatnya dengan di bervariasi media dijamin konstitusi.

Diskusi itu juga bagian daripada kebebasan akademis dan Indonesia telah menyetujui Kovenan Hak Sipil serta Politik menjadi Undang-Undang (UU) Bagian 12 Tahun 2005.

Aprillia Supaliyanto menegaskan, peristiwa itu sungguh sangat menciderai nilai-nilai demokrasi, sangat melukai kebebasan akademik yang berorientasi pada pengembangan keilmuan. Pemberangusan kegiatan-kegiatan ilmiah sama halnya pembunuhan terhadap kehidupan kampus.

Menurutnya, setiap pejabat publik sepatutnya mengemban posisinya dengan kewajiban mematuhi konstitusi. Pelanggaran terhadapnya patut disanksi pencopotan.

“Negara kudu tanggap atas kasus ini. Negara tidak boleh diam. Jangan lagi-lagi negara bersikap pura-pura tidak cakap dan apatis atas peristiwa sama dengan ini. Ini persoalan serius. Jalan kami menempuh jalur hukum ini sekaligus ingin menguji negara, sejauh mana negara merespon atas perkara kejahatan yang di alami sebab kelompok masyarakat yang punya daya kritis. Negara ini masih jadi recht staat bukan machtstaat. Negeri harus bersikap fairness terhadap segenap anak bangsa” tegas Aprillia, pada keterangan pers yang diterima sidang pengarang, Minggu (31/5/2020).

Dia mengungkapkan dalam beberapa hari tersebut Ni’matul Huda mendapatkan teror sebab orang tak dikenal. Pelaku dengan diperkirakan berjumlah lebih dari utama orang itu bahkan mengancam akan membunuh karena menuduh Ni’matul Huda akan melakukan tindakan makar.

“Rumah profesor didatangi oleh orang-orang tak dikenal dan meminta Bu Ni’matul untuk keluar. Makin para pelaku sampai masuk ke pekarangan halaman, berteriak-teriak dan menggedor pintu rumah, ” ungkapnya,

Ia meyakini teror yang diterima Ni’matul Huda berhubungam dengan aktivitasnya sebagai akademisi yang mau menjadi pembicara dalam diskusi ‘Meluruskan Persoalan Pemberhentian Presiden Ditinjau sejak Sistem Ketatanegaraan’.

Permufakatan tersebut sedianya akan digelar pada Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta pada Jumat (29/06/2020) kemarin, namun karena adanya berbagai ancaman serta intimidasi maka kegiatan itu keputusannya dibatalkan.

Aprillia Supaliyanto menduga ada pihak-pihak yang berniat melakukan provokasi sehingga diskusi yang sebenarnya hendak membahas tentang petunjuk tata negara dari kacamata akademik itu namun malah dihembuskan menjelma isu makar. Tak hanya Ni’matul Huda saja yang mendapat teror, para panitia diskusi dari kalangan mahasiswa UGM juga mendapat intimidasi serta ancaman pembunuhan.

“Keterangan dari profesor, ketika diminta menjadi narasumber temanya umum seluruhnya yakni tentang impeachment presiden. Namun entah mengapa beredar tema asing yang cukup tendensius dengan narasi menjatuhkan presiden di era Covid, kira-kira begitu, ” imbuhnya.

Hal inilah yang lalu memicu polemik dan menciptakan anggapan di tengah masyarakat. Padahal sepatutnya menurut Aprillia Supaliyanto, Ni’matul Huda akan memberikan materi bahwa sejak sisi hukum tata negara pemakzulan itu tidaklah mudah untuk dikerjakan.

“Seminar itu suci kegiatan akademis yang sebenarnya malah akan memberikan pencerahan bahwa impeachment presiden itu tidak mudah. Malah jika seminar itu jadi dilaksanakan, beliau akan memberikan pencerahan & edukasi serta pembelajaran politik, ” jelasnya.

Aprillia Supaliyanto menegaskan, adanya intmidasi dan risiko kepada Ni’matul Huda mencederai demokrasi di negeri ini serta kesucian kegiatan akademis di kampus. Ia khawatir jika kasus ini tidak ditangani dengan baik maka akan menjadikan preseden buruk di tengah masyarakat maupun para akademisi di kampus.

Para Advokat Alumni FH UII Yogyakarta ini berencana akan melaporkan peristiwa yang dialami Sang Guru Besar ke Polda DIY. Mereka juga mengimbau masyarakat untuk tetap bersikap kritis dan konstruktif dalam membedah maupun mendiskusikan segala hal tentang tata negara ataupun kehidupan bangsa tersebut.