Pertarakan, Langkah Awal Memulihkan Perekonomian

AKURATNEWS – Bulan Ramadhan memberikan pembelajaran kalau kehidupan harus ditekuni secara kejujuran, kebersahajaan dan adat (tidak serakah), nir tanggapan, serta nafsu yang kudu dikendalikan.

Kudu jujur karena puasa bulan Ramadhan adalah untuk Sungguh Pencipta sementara ibadah yang lainnya untuk pelakunya. Ialah tidak mungkin disebut berpuasa jika tidak jujur. Pula pengendalian rasa, ucapan & tindakan.

Pengendalian tiga hal ini membuat sirnanya kebanggaan saat berbuka, semewah apapun hidangannya. Tak juga menunjukkan ketangguhan zaman sahur, sekuat apapun tubuh menikmati konsumsi makanan.

Justru patut membuktikan keteguhan bersikap untuk tak makan, minum, berhubungan mendalam dengan pasangan sah & sabar menahan amarah semenjak Subuh hingga Maghrib.

Secara makro, hal itu mempengaruhi perilaku ekonomi. Mereka yang bertransaksi harus jujur menyampaikan besarnya beban dan tingkat keuntungan dengan hendak dicapai. Uang pun dihargai tidak melampui ukuran keahlian menghasilkan barang atau jasa.

Wujudnya antara lain adalah pinjaman tanpa bunga (nir riba’) tapi bagi hasil dan bagi risiko. Sumberdaya pribadi tidak boleh dieksploitasi atas nama hukum keseimbangan penawaran & permintaan pasar tenaga kegiatan.

Dalam kebersahajaan dan kepatutan sebagai aksi nyata tidak serakah, makna yang diraih merupakan kadar wajar, bukan mengambil kebaikan atas kesempatan dalam kesempitan.

Kewajaran itu dilaksanakan dengan pola transaksi yang ihlas karena   kejujuran. Juga tidak ada persepsi apapun kecuali fakta atas barang dan kekayaan (alat ukar) yang pertukarannya mengharapkan keridlo’an Allah swt.

Keuntungan tumbuh bukanlah pembimbing perilaku berbisnis karena keuntungan harus memberi manfaat bukan hanya dalam mereka yang langsung bertransaksi, tapi juga kepada pihak ketiga sebagai upaya mengatasi eksternalitas negatif dan kegagalan pasar.

Dalam balik semua ini, pada dalamnya terkandung bahwa capaian tahta dan harta bukanlah ukuran kemuliaan dan kehormatan melainkan bagaimana penerapan pengetahuan dan iman seseorang di menegakkan harkat martabat pribadi.

Merujuk hal di atas, maka seluruh perilaku transaksi merupakan pengamalan komitmen bahwa nafsu membatalkan harus ditundukkan. Perwujudan syahwat dipersempit. Syahwat keinginan dinihilkan kecuali kebutuhan.

Puasa membedakan dengan bahana mana kebutuhan mana keinginan. Disebabkan polanya adalah pembelajaran dan pengajaran menyucikan mengalami, kata, tindakan, maka puasa menghantarkan pelakunya untuk menghasilkan neraca atas tiga peristiwa ini.

Kalau lebih banyak negatifnya, oleh karena itu 10 hari terakhir dianjurkan untuk ditekuni dengan ideal sehingga tujuan puasa Ramadhan tercapai, yakni hamba Tuhan yang memperoleh ampunanNya serta hamba Allah yang tegas dalam menegakkan ajaranNya.

Dalam perspektif yang lain, puasa Ramadhan merupakan pelaksanaan konsepsi modal sosial. Unsur-unsurya adalah nilai-nilai, komitmen dengan dilaksanakan dengan proaktif, kejujuran guna terbangunnya hubungan sosial saling percaya, membangun jejaring sosial (silaturahim langsung), & kepemimpinan.

Di lingkup silaturahim, berbagi perolehan saat berbuka atau santap sahur, sholat berjama’ah Isya dan Subuh serta tarawih di masjid adalah perkakas saling berbagi, peduli, & menghargai.

Karena setiap orang adalah pemimpin, minimal kepemimpinan atas dirinya, maka silaturahim itu menumbuh kembangkan sikap kebersamaan serta ketahanan sosial.

Itu karenanya mustahil kalau masjid sebagai tempat menyesatkan mulia di muka dunia justru menjadi sumber penyaluran virus selama masjid dipelihara dan dipelihara secara terang dan nyaman.

Dilihat secara mikro, corak konsumsi sebenarnya hanya kurang berubah karena pergeseran zaman makan dari siang menjelma malam. Tetapi pergeseran itu ternyata mengubah volume & jenis makanan yang dikonsumsi, termasuk air minum.

Hampir semua wadah berbuka membutuhkan makanan pembatal puasa saat adzan Maghrib bergema. Permintaan air kelapa dan minuman manis menggila. Kebutuhan inilah yang memajukan permintaan akan barang-barang konsumsi meningkat.

Lupa satunya adalah kurma dengan ragam jenis dan kualitasnya. Hingga akhir Maret menjumpai bulan Ramadhan, impor kurma mencapai USD17, 1 juta atau sekitar Rp250 milyar, meningkat nyaris 50 komisi.

Permintaan terbengkalai pun meningkat. Sayangnya berlaku pemborosan saat kita melihat sampah nasi di restoran padang atau restoran sunda. Berapa besarnya? Ada riset lama sementara riset gres tentang pembuangan nasi itu belum muncul ke bidang.

Paling tidak, permintaan tiga hal keinginan pokok itu menggambarkan meningkatnya konsumsi masyarakat sebagai berkah rezeki juga bagi semua kalangan di tengah kemerosotan ekonomi merasuk ke seluruh sektor, kecuali farmasi dan teknologi informasi dan koneksi.

Bayangkan, jika tanpa bulan puasa serta Ramadhan kemungkinan konsumsi bangsa berpotensi terkontraksi lebih sebab 2, 23 persen sama dengan data yang diumumkan Bank Indonesia pada 5 Mei 2021. Ini menunjukkan di tengah daya beli bangsa yang terpukul karena pandemik, masih ada kekuatan kelompok untuk bertahan.

Saya bermimpi lahirnya kebijaksanaan pemerintah yang produktif & membangun kepercayaan dan kerjasama masyarakat. Akibatnya konsumsi keluarga berpotensi lebih baik bersaingan dengan konsumsi perusahaan dan konsumsi pemerintah yang menyusun.

Hasilnya merupakan lebih cepat pulihnya perekonomian nasional karena permintaan privat, dan Indonesia tidak menumpukan diri pada pembiayaan eksternal seperti utang luar kampung dan ekspor komoditas bahan mentah.

Puasa Ramadhan sebenarnya membuka pekerjaan untuk menumbuh kembangkan teristimewa kerjasama sosial, politik, dan ekonomi. Tapi peluang ini tidak diambil sehingga daya ekonomi yang lahir sebab aktivitas Ramadhan dan Idul Fitri tidak berubah menjelma kekuatan bersama untuk berdiri.

Sekuat apapun keuangan pemerintah dan korporasi, hasilnya tidak akan ideal sepanjang (1) ketidak-jujuran, (2) keserakahan (yang diwujudkan secara egosentris dan arogansi kekuasaan), dan (3) persepsi kecurangan terus berkembang.

Seperti pernyataan Menkeu Sri Mulyani yang kuatir pendirian infra struktur menjadi mubazir dan kenyataan biaya logistik Indonesia yang lebih mahal 10 persen dibanding negeri tetangga, maka terbukti pertarakan memang secara naluriah mau mendorong seseorang untuk berceloteh jujur.

Kalau pada September 2019 Bank Dunia menilai bahwa di Indonesia terjadi lack of credibility, puasa mengajarkan dengan jalan apa menumbuhkan sikap saling membenarkan disebabkan kejujuran dan lalu lahir kredibilitas. Inilah langkah awal memulihkan perekonomian. Wallahu a’lam bissawab. ***