Praja Depok Diklaim Belum Pantas Raih KLA Nindya

AKURATNEWS. COM – Predikat Kota Layak Anak (KLA) ke-4 yang disematkan dari Departemen Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia buat Kota Depok justru memiliki klaim  sebaliknya dari sejumlah warganya.

Penghargaan dianggap masih belum pantas disandang Kota Depok lantaran masih ada anak yang hingga kini alami pengganggu beesekolah.

“Saya rasa belum layak sebab masih terdapat bahkan malah banyak anak-anak kurang mampu kesulitan bisa bersekolah”, kata pendahuluan warga Tugu, Cimanggis Depok, Masaron, Sabtu, (31/7)

Menurut Masaron, harusnya yang utama bisa bersekolah itu dari golongan bujang yang tidak mampu. Bukan justru dari anak dengan orangtua tergolong mampu.

Dia menuturkan, maka sekarang nasib anaknya buat bisa bersekolah masih belum jelas meski telah menempuh sejumlah cara agar si buah hatinya bisa belajar.

“Saya telah coba mendaftarkan sekolah bujang saya melalui online pada SMA baik melalui SKTM, jalur zonasi namun tidak diterima. Sedang, hanya tersedia satu sekolah SMA Negeri di wilayah Kecamatan saya”, ujar Masaron.

Ungkapan senada, warga Depok lainya Nurma mengatakan kalau penghargaan KLA masih tak layak diraih Kota Depok lantaran masih ada anak yang kesulitan bersekolah.

“Sepengetahuan saya sedang ada tiga anak yang juga masih belum bisa bersekolah. Mungkin di luar sana masih banyak lagi”, kata warga Baktijaya, Sukmajaya Depok.

Nurma merasa sangat prihatin arah kesulitan yang dialami anaknya untuk bisa bersekolah. “Sangat prihatin sekali ini terjadi pada anak saya sendiri”, tutur Nurma.

Dia mengaku sampai sekarang masih alami kesulitan untuk anaknya bisa bersekolah pada SMA meski sudah mencari jalan ikuti jalur PPDB.

“Anak saya pada PPDB sudah mengikuti semua jalur. Baik jalur isbat dan jalur Zonasi. Padahal, kami juga memiliki surat KIS, PBI APBD”, tutur Nurma.

Sebab kami tidak termasuk masukan DTKS, lanjut Nurma, kolom afirmasi mengikuti jalur penyungguhan prestasi nilai dan terpental. Begitu juga jalur zonasi.

Sementara, sedang kata Nurma, untuk hadir SMA swasta dirinya tidak sanggup karena faktor beban. “Suami hanya sebagai tukang ojek. Lalu kami harus bagaimana. Sedangkan anak beta pingin sekali bisa belajar Di SMA Negeri” keluhnya.

Terpisah, pemimpin anak terancam tak belajar, Roy Pangharapan berikan penilaian sama.

Menurutnya, dalam konteks pembelaan anak tingkat SMA, Pemkot Depok kurang layak mendapatkan penghargaan tersebut.

“Sejauh ini kami menerima petunjuk sebanyak 30 anak dengan kesulitan bersekolah untuk jenjang SMP dan SMA. Maka kini masih ada 4 anak yang nasibnya sedang belum jelas apakah bisa bersekolah”, terang Roy.

Dirinya mengaku jika sebelumnya bersama para orangtua siswa pernah ingin bersemuka dan beraudenai dengan Wali Kota Depok meski yang didapat adalah penolakan.

“Saat itu kami hanya ditemui ajudan bungkus Wali Kota yang menodong kami untuk bertemu Kadisdik Depok”; pukas Roy.

Sebelumnya, usai mengambil penghargaan KLA kategori Nindya, Wali Kota Depok Mohammad Idris mengatakan Kota Depok ke depan dapat langsung berkembang sebagai Kota KLA baik pada sisi program, perhatian kepada anak, maupun dukungan infrastruktur untuk bani.

“Infrastruktur yang mendukung kegiatan anak-anak akan terus kita tingkatkan termasuk mereka yang disabilitas, ” kata Idris kepada wartawan Kamis, (27/7) lalu.

Untuk diketahui, Kota Depok menyandangkan KLA sebesar tiga kali, sejak tahun 2017, 2018 dan 2019. Dengan begitu, Kota Depok sejauh ini masih terekam sebagai salah satu kota dengan penghargaan KLA sebanyak empat kali tanpa masa.