Data
Togar Situmorang Himbau Lingkungan Sekolah Kudu Bebas Rokok

Togar Situmorang Himbau Lingkungan Sekolah Kudu Bebas Rokok

Jakarta, Akuratnews. com kepala Angka perokok anak di Indonesia semakin meningkat. Menurut Data Riskesdas Tahun 2018 angka perokok anak mencapai 9, 1% mengalami pengembangan sekitar 4% dari tahun 2013.

Peraturan Pemerintah No 109 Tahun 2012 menyatakan sekolah atau tempat belajar dan mengajar sebagai Kawasan Minus Rokok (KTR). Kementerian Pendidikan serta Kebudayaan menjabarkannya dalam Permendikbud No 64 Tahun 2015 tentang Negeri Tanpa Rokok di lingkungan Sekolah.

Menurut Pasal 5 Ayat 1 dalam Peraturan Gajah Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2015 tentang Kawasan Tanpa Rokok dalam Lingkungan Sekolah dinyatakan Kepala Sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, dan pihak lain dilarang merokok, memproduksi, menjual, mengiklankan, dan atau mempromosikan rokok di lingkungan madrasah.

Dalam ayat 4 pasal yang sama dalam Permendikbud tersebut juga dinyatakan guru, gaya kependidikan, dan atau peserta asuh dapat memberikan teguran atau melaporkan kepada kepala sekolah apabila benar ada yang merokok di lingkungan sekolah.

Namun dalam satu diantara Sekolah Dasar Negeri diwilayah Kecamatan Pulo Gadung Jakarta Timur justru oknum Kepala Sekolah berniat asyik merokok tanpa menghiraukan sanksinya.

Praktisi hukum Togar Situmorang SH MH MAP CLA, ketika ditanya terkait perihal oknum Kepsek yang merokok di lingkungan sekolah, menurutnya hal itu telah menyalahi peraturan dan dapat dipakai sanksi.

“Seharusnya besar sekolah memberikan contoh yang elok, bukan saja kepada siswa pula kepada guru lainnya termasuk terbuka. Jadi harus ditindak tegas, serta dinas terkait segera menindak lanjuti prosesnya, ” ujar Togar Situmorang, Rabu 2 Desember 2020.

Togar mengatakan, bukan hanya sebagai tenaga didik, namun perilaku oknum ini juga tidak melukiskan kapasitasnya sebagai kepala satuan gaya pendidik, tepatnya sebagai kepala sekolah (kepsek).

“Selaku tenaga pendidik, yang bersangkutan seharusnya tak merokok di dalam lingkungan sekolah. seharusnya merokok pada tempat yang telah disediakan, atau juga merokok di sungguh lingkungan sekolah” kata Togar.

Togar menambahkan, untuk menciptakan lingkungan bersih dan sehat tak cukup dengan memasang tanda kekangan merokok. Tidak cukup juga secara larangan pemasangan iklan rokok. Apalagi sangat tidak rasional untuk menciptakan lingkungan bersih dan sehat secara penolakan kerja sama dengan perusahaan rokok.

“Untuk merealisasikan tujuan ini, sekolah diwajibkan mengabulkan beberapa kegiatan yang dirumuskan di Pasal 4. Yaitu, memasukkan pembatasan terkait rokok dalam aturan tata tertib sekolah” pungkas Pria yang di juluki Panglima Hukum tersebut.